Cheese Cake Factory kurang profesional

Di awal bulan Februari, aku melewati toko Cheese Cake factory di daerah Barito, Jakarta Selatan saat aku menuju kantor. Pikirku, “Wah, ada toko kue baru nih. Perlu dicoba!”. Maklum, doyan makan enak sih.

Nah, tgl. 8 Maret lalu, aku dan adikku mengunjungi tante dan sepupuku yang datang dari Medan. Mereka menginap di rumah anak tanteku itu di daerah Tebet. Sepupuku itu namanya Tia. Dia pernah bilang kalau di dekat rumah kakaknya di Tebet itu ada toko kue yang cheese cakenya enak. Sayang, kata kakaknya toko itu tidak buka lagi. Kalau mau, bisa ke Cheese Cake Factory dekat rumahnya juga, dan di sana bisa makan di tempat. Waaaah, kebetulan sekali kan…….. Memang aku pengen coba dan kami bisa ngobrol-ngobrol sambil mencicipi kue.

Jadi setelah makan siang, kami pun berangkat ke sana: aku, adikku, dua keponakanku, dan Tia. Letaknya tak jauh dari Pasar Tebet. Tempat parkirnya penuh, jadi aku cari tempat parkir di sekitarnya.

Kami dipersilakan duduk di sofa di pojok dekat jendela. Yang menerima kami adalah seorang pramusaji berseragam marun, kita sebut namanya Mbak A. Setelah melihat-lihat menu, aku pesan Machiato untuk minumnya, Tia pesan air mineral, adikku pesan snack Banana Fritter dengan es krim dan minumnya Strawberry Sparkling. Tak disangka mereka punya menu yang bervariasi, tak hanya kue-kue, tapi juga makanan lain seperti sup, salad, pizza, dan pasta.

Aku dan Tia pergi ke counter kue dan pesan dua Blueberry Cheese Cake dan satu scoop es krim strawberry untuk keponakanku Rara. Segeralah pesanan kami itu tersaji. Lalu kami lanjutkan ngobrol dan berfoto. Tak terasa sudah 30 menit, pesanan adikku yang muncul cuma minumannya. Kami panggil pramusaji lain, Mbak B (seragam gelap) mengingatkan Banana Frittersnya yang belum datang. Sambil menunggu itu, aku dan Tia pergi lagi ke counter kue untuk memesan kue dibawa pulang. Ada tiga jenis kami pesan. Aku bilang ke pramusaji Mas A nanti billnya disatukan saja dengan billku di meja.

Kembali ke meja, datanglah Mas B. Dia minta maaf pesanan agak lama karena menu ini disiapkan fresh. Dia bilang sebentar lagi akan selesai. Wah, masa’ kami sudah satu jam disitu, pesanan baru mau selesai? Sementara di meja-meja lain, pengunjung sudah berganti-ganti. Kami tebak kalau si Mbak A itu lupa memberikan order kami ke dapur.

Aku tanya, berapa lama lagi kami harus menunggu, kata Mas B lima menit lagi. Kami semua sudah mulai kesal. Aku bilang, kalau lebih dari lima menit, aku tidak mau bayar. Aku yang tadinya mau order pasta dan salad, jadi tidak selera lagi, karena takut pesanan kami jadinya lama juga. Aku bilang ke Tia, “Sekarang pukul 14.47, berarti jika pukul 14.52 makanan tidak keluar, kita tidak bayar ya…”

Lewat pukul 14.52, Banana Fritters belum keluar. Akhirnya aku berdiri dan mengajak pulang. Eh Mas B datang, katanya makanan sudah jadi, aku bilang dengan nada kesal, “Ya bagaimana? Kami sudah mau pulang…”. Dia pun menawarkan untuk take away. Aku setuju. Lalu aku minta siapkan bill, Mbak B datang membawa bill. Disitu tidak tertera Banana Fritters dan tiga kue yang sudah aku pesan. Aku minta padanya agar bill diperbaiki.

Dia bilang: Kan Ibu batalkan Banana Frittersnya?

Aku: Lho, kan saya sudah setuju mau dibawa pulang…????! Jangan lupa kuenya ya Mbak…

Dia bergegas menuju kasir, lalu balik lagi untuk tanya kue apa yang sudah kami pesan. Oh My God! Bayangkan gimana kesalnya aku………..http://emo.huhiho.com

Aku: Ya kita lupa tuh Mbak. Lihat dong catatannya yang ada di teman Mbak. Cek atas nama Mirna!

Aku lihat dia dan beberapa temannya sibuk di counter kasir menangani permintaanku. Heran deh, pengunjung tidak begitu banyak, tapi kok bisa kejadian begini?

Tak sabaran, aku ke  kasir sambil tanya mengapa bikin bill aja bisa lama, dengan mengeluarkan logat Medanku. Kulihat kue sudah dibungkus. Petugas di belakang counter berkomentar: “Sabar ya bu….”  tapi dengan nada bete. Ih, kaya’nya itu Sang Manager deh yang tadi bawa es krim.

Bill baru selesai, lalu aku cek lagi item yang tercantum. Lho, kok ada Oreo Cheese Cake? Aku bilang kami tidak ada pesan dan makan kue itu, aku minta bill direvisi lagi. Heboh lagi tu orang-orang. Duuuuh, daripada makin lama, aku bilang aku bayar saja semua, dan bungkuskan Oreo Cheese Cake yang sudah tercantum.

Kami keluar dari toko kue itu dengan perasaan jengkel. Mbak A membukakan pintu untuk kami. Dia tidak kelihatan sama sekali di tengah kejadian mengesalkan terjadi.

Adikku bilang, harusnya kita diberi kompensasi, misalnya diskon atau free item. Yah, apa boleh buat. Hati sudah keburu kesal, mana keponakanku yang bayi sudah terkantuk-kantuk.

I wished the manager did something to calm us down and cheers us up!

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.